Wednesday, September 7, 2011

Kenangan Kepada Pagerageung, Almarhum Kakek & Abah Anom

Pagerageung.....Engkau Selalu Kukenang

Kampung halamanku ada di Pagerageung - Tasikmalaya, desa yang melahirkan kedua orang tua dan tempat  "Bali Geusan Ngajadi" bagi seluruh keluarga besar alm. H. Abdul Aziz dan Oewon Natamihardja. Disinilah dilahirkan tokoh-tokoh seperti Raden Moehamad Asnawi, Pagerageung, Tjiawi, berputerakan Raden Moehamad Markoem, Penghulu Pagerageung, berputerakanRaden Moehamad Noerjakin, Penghulu Pagerageung, Raden Moehamad Tabri, di Pagerageung, Tjiawi. berputerakan Raden Abdoelah, pegawai Kaoem Bandoeng. 

Luas wilayah Kecamatan Pagerageung adalah 6.368,450 Ha terdiri dari Tanah Sawah: 2.339,263 Ha, Tanah Darat: 3.918,152 Ha, Tanah Hutan: 109,234 Ha dan Jalan, sungai dll: 1,801 Ha. Desa Pagerageung adalah ibukota dari Kecamatan Pagerageung. Terdiri dari 5 wilayah Kampung yaitu Pagerageung Kulon (Bojot, Tanjaknangsi, Cijeruk, Calingcing, Munjul), Pagerageung Kidul (Citugu, Patombo, Bolkam), Pagerageung Tengah (Tengkot, Sisi Makam, Baros), Pagerageung Kaler (Ciseupan, Pasantren, Cidomba), dan terakhir Pagerageung Wetan (Pasar, Darul Ulum, Cibeunying, Tanjakan Genteng, Kebon Suuk). Merupakan desa yang masih mempertahankan ciri tradisional masyarakat Sunda dan sangat kental dengan nuansa islami. Ini ditandai dengan berdirinya berbagai pondok pesantren di setiap kampungnya. Masyarakatnya 100% menganut agama Islam dan sebagian besar bermata penceharian sebagai petani. Kesenian khas dari desa ini yaitu seni tembang Pagerageungan, yang setiap tahun dilombakan terutama di tingkat sekolah dasar. Seni lainnya yaitu seni kosidahan yang biasanya diselenggarakan secara meriah di balai desa saat hari-hari besar Islam, seperti pada perayaan Isra Mi'raj dan Maulid Nabi.
Kakekku almarhum H. Abdul Aziz dan Oewon Natamihardja
Kedua kakekku berasal dari Pagerageung. Beliau berdua mewakili latar belakang demografis yang berbeda. Almarhum kakek dari fihak Ibu (alm. H. Abdul Aziz) adalah seorang petani yang kemudia bermetamorfosis menjadi tokoh sentral lokal yang disegani. Masih segar di ingatan saya, pada saat beliau naik haji tahun 1970-an ribuan orang mengantar kepergian beliau dengan seperti oarang yang tidak akan kembali. Teringat juga cerita orang tua bahwa beliau menyumbangkan tanahnya seluas 100 Ha kepada negara dalam rangka perjuangan melawan penjajah.
Kenangan pribadi yang menonjol  dengan beliau adalah pada saat naik haji, saya mengantar sampai dengan Pelabuhan Tanjung Priuk - Jakarta dengan naik Kereta Gandeng (Anhang) dari Pagerageung - Tasikmalaya. Suatu perjalana yang mengasyikkan, rasanya seperti Karl May atau Huckleberry Finn yang melakukan perjalan penuh bahaya menuju "The Last Frontier" terutama karena saya dan sepupu duduk di atas peti-peti kayu (Sahara) untuk bekal kakek dan nenek di Tanah Suci. Kenangan lainnya adalah bila pulang mudik, saya selalu ikut "Kursus Kilat Mengaji" dimana kakek bertindak sebagai Tutor. Bila sepupu lain kena sentil "Sapu Nyere" bila salah melafalkan ayat suci Al-Qur'an, maka saya belum pernah mengalaminya :-)
Almarhum kakek dari fihak ayah (alm. Oewon Natamihardja) berasal juga dari Pagerageung. Hanya saja beliau sudah lama tinggal di Bandung dan bekerja di GBO (yang kemudian berubah nama menjadi PLN) sejak jaman "Noormal".  Kakek bekerja di instansi ini sejak tahun 1930 sampai dengan pensiun 1970, suatu masa kerja yang cukup panjang dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi beliau. Beliau adalah salah seorang pendiri Masjid Nugraha - Bandung dan tokoh masyarakat Muararajeun yang hidup dengan segala kesederhanaanya.
Kenangan pribadi dengan beliau adalah kesederhanaan, keramahan dan kesejukan seorang kakek. Beliau tidak mau tinggal di rumah dinas, sampai-sampai menolak tinggal di peruamahan PLN di Jalan Ciateul - Bandung, karena tidak ingin anak cucunya "terusir" dari rumah tersebut. Seperti kita tahu banyak dari rumah dinas tersebut bisa dimiliki oleh pegawai, namun tidak ada penyesalan dari beliau yang sampai akhir hayatnya tinggal di "Rumah Buruh" (Woneng) ...... Suatu sikap integritas yang selalu saya ikuti sampai sekarang. Selain itu setiap selesai sholat Jum'at beliau datang ke rumah kami (jaraknya hanya ~100 meter) untuk bersilaturahmi dan mengecek keadaan anak cucu beliau.
Dengan Abah Anom, saya tidak tahu hubungan kedua kakek dengan Kyai dari Suryalaya ini. Yang pasti mereka berdua sering menyebut-nyebut nama Kyai Godebag dalam pembicaraan menyangkut guru-guru spiritual mereka. Mungkin mereka berdua pernah/sering  berhubungan dengan Abah Anom baik sebagai murid atau jamaah dari Pagerageung. Wallahu Alam Bissawab.
Riwayat Singkat KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom)
KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya (Kecamatan Pagerageung) tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi. 
Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah.
Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam. Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam. Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik.
Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.
Di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa musibah. Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah, di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.
Abah Anom meninggal dan dimakamkan di tempat pemakaman keluarga Puncak Suryalaya atau sekitar komplek pesantren, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (6/9) pagi. Almarhum dimakamkan di sebuah bangunan dekat dengan makam ayahnya Syekh H Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh pendiri pondok pesantren Suryalaya dan makam keluarga besar Suryalaya lainnya.
 

Sunday, September 4, 2011

Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholders) Dalam Manajemen

'Stakeholders' menurut definisnya adalah kelompok atau individu yang dukungannya diperlukan demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup organisasi. Clarkson membagi Stakeholders menjadi dua: Stakeholders primer dan Stakeholders sekunder. Stakeholders primer adalah ‘pihak di mana tanpa partisipasinya yang berkelanjutan organisasi tidak dapat bertahan.’ Contohnya adalah pemegang saham, investor, pekerja, pelanggan, dan pemasok. Menurut Clarkson, suatu perusahaan atau organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem Stakeholders primer – yang merupakan rangkaian kompleks hubungan antara kelompok-kelompok kepentingan yang mempunyai hak, tujuan, harapan, dan tanggung jawab yang berbeda. 

Stakeholders sekunder didefinisikan sebagai ‘pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan, tapi mereka tidak terlibat dalam transaksi dengan perusahaan dan tidak begitu penting untuk kelangsungan hidup perusahaan.’ Contohnya adalah media dan berbagai kelompok kepentingan tertentu. Perusahaan tidak bergantung pada kelompok ini untuk kelangsungan hidupnya, tapi mereka bisa mempengaruhi kinerja perusahaan dengan mengganggu kelancaran bisnis perusahaan. 

Clarkson (dalam artikel tahun 1994) juga telah memberikan definisi yang bahkan lebih sempit lagi di mana Stakeholders didefinisikan sebagai suatu kelompok atau individu yang menanggung suatu jenis risiko baik karena mereka telah melakukan investasi (material ataupun manusia) di perusahaan tersebut (‘Stakeholders sukarela’), ataupun karena mereka menghadapi risiko akibat kegiatan perusahaan tersebut (‘Stakeholders non-sukarela’). Karena itu, Stakeholders adalah pihak yang akan dipengaruhi secara langsung oleh keputusan dan strategi perusahaan. 

Menurut Freeman (1984), perusahaan-perusahaan terkemuka telah menerima kenyataan bahwa mereka bukanlah semata-mata pelayan kepentingan pemilik modal, melainkan juga pemangku kepentingan lain yang lebih luas. Pemangku kepentingan ini didefinisikan sebagai pihak-pihak yang dapat terpengaruh dan/atau mempengaruhi kebijakan serta operasi perusahaan. Clarkson (1995) semakin meyakinkan dunia bisnis bahwa hanya dengan memperhatikan semua pemangku kepentinganlah sebuah perusahaan dapat mencapai kinerja sosial yang tinggi (yaitu perolehan social license to operate). Permasalahannya, siapa saja yang dapat dianggap sebagai pemangku kepentingan yang sah terhadap operasi perusahaan? Jawaban pertanyaan ini pertama-tama dikemukakan oleh Mitchell, Agle dan Wood (1997), yang menyatakan bahwa derajat kesahihan pemangku kepentingan ditentukan oleh aspek kekuatan, legitimasi, dan urgensi. Sejak itu ketiga kriteria itu dipergunakan secara luas, sampai kemudian Driscoll dan Starik (2004) mengusulkan kedekatan (proximity) sebagai kriteria lainnya

(Dikutip dari berbagai sumber)
<iframe width="640" height="410" src="http://www.youtube.com/embed/bIRUaLcvPe8" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>

Sunday, August 28, 2011

e-Learning: Bagai Gajah Yang Diraba Orang Buta

Menurut  Vega Bhutani dari Associate Online Marketing, ada sebuah perumpamaan kuno yang terkenal tentang enam orang buta yang tidak tahu seperti apa gajah itu. Mereka mencoba untuk memahami dengan menyentuhnya karena mereka tidak bisa melihatnya. Namun, setiap dari mereka hanya bisa memahami  sebagian kecil dari realitas gajah tersebut. Orang buta yang menyentuh belalai gajah merasa bahwa itu seperti pipa, yang lain merasa dan  berpikir bahwa gajah itu adalah seperti dinding dan sebagainya. Hal yang sama berlaku untuk e-Learning.

The eLearning Elephant!
e-Learning digunakan sangat luas saat ini dalam organisasi akademis, bisnis dan pemerintahan untuk pelatihan dan pembelajaran.  Tapi orang memiliki pemahaman berbeda tentang e-Learning. Bagi sebagian orang, hal itu adalah teknologi pembelajaran atau pelatihan, atau semua hal tentang animasi dan interaksi,  atau juga  ada yang menganggap sebuah situs web. Jadi, menurut Anda, apa definisi sesungguhnya dari e-learning?

<iframe width="640" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/JMCq4PDnjUU" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>

Related articles, courtesy of Zemanta:

Saturday, August 27, 2011

Hapunten Samudaya Kalepatan Diri

Hapunten samudaya kalepatan diri

Wilujeng mulih ka bali geusan ngajadi

Nepangan anu janten asal diri

Dina dinten fitri anu pinuh ku berkah solusi


Hapunten Samudaya Kalepatan Diri

Related articles, courtesy of Zemanta:

Friday, August 26, 2011

Status Terbaru Pendidikan Digital Di Dunia (The State of Digital Education Infographic)

Internet telah banyak mengubah tatanan industri. Hal ini juga yang harus dipersiapkan untuk transformasi pendidikan kita. Berikut adalah analisis dari Knewton tentang Status Terbaru Pendidikan Digital (The State of Digital Education Infographic).

Sebagai perbandingan, beberapa pendapat pakar & dosen di Indonesia dapat dibaca di sini:  http://pendidikpembebas.wordpress.com/2011/07/29/pendidikan-digital-utopia-atau-harapan-sebuah-obrolan-di-dunia-maya/

The State of Digital Education

<iframe width="640" height="410" src="http://www.youtube.com/embed/tahTKdEUAPk" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>

Related articles, courtesy of Zemanta:

Thursday, August 25, 2011

Liputan Inilah.com: Pesantren IT Arahkan Pengajar Jadi Pendidik

Pesantren IT Arahkan Pengajar Jadi Pendidik

Kegiatan Pesantren IT yang digagas Comlabs ITB mengajarkan supaya seorang guru tidak hanya menjadi seorang pengajar, namun sebagai pendidik. - inilah.com/Ageng Rustandi
Oleh: Ageng Rustandi
Jabar - Rabu, 24 Agustus 2011 | 22:20 WIB

INILAH.COM, Bandung - Kegiatan Pesantren IT yang digagas Comlabs ITB bersama dengan Pojok Pendidikan mengajarkan supaya seorang guru tidak hanya menjadi seorang pengajar, namun mengarahkan seorang guru sebagai pendidik.

“Dengan hanya berpikir sebagai seorang pengajar, guru hanya memberikan materi ajar di depan kelas tanpa mampu mentrasfer nilai-nilai pokok dari sebuah pendidikan. Dan kami di sini mencoba untuk membuka wawasan guru tentang hal tersebut, tidak hanya mengajar tapi juga berperan sebagai pendidik,” ungkap Senior Advisor ComLabs ITB & Pojok Pendidikan Djadja Sardjana kepada INILAH.COM di sela-sela pelaksanaan Pesantren IT di Gedung ComLabs ITB, Jalan Ganeca Kota Bandung, Rabu (24/8/2011).

Peran seorang guru, lanjutnya, tidak hanya bertindak sebagai seseorang yang melakukan transfer ilmu kepada muridnya. Guru harus berperan sebagai benteng dari serangan-serangan pengaruh buruk bagi muridnyam baik pengaruh dari dalam maupun luar lingkungannya.

“Untuk itu, salah satu materi yang diberikan adalah filosofi dan psikologis pembelajaran. Dengan ini diharapkan seorang guru atau dosen mampu mencintai profesinya tersebut dengan utuh. Karena guru merupakan profesi yang harus menjadi tuntutan dan contoh bagi muridnya,” tambahnya.

Selain itu, untuk membekali guru dalam pembelajaran, diberikan juga materi tentang aplikasi information technology(IT) dalam materi pembelajaran. Dengan tuntutan zaman yang semakin mengarah pada IT, guru dituntut mampu mengembangkan media pembelajaran sesuai dengan tuntutan zaman.

“Terkait IT ini memang sudah cukup banyak sekolah maupun guru yang memiliki fasilitas. Namun pengoptimalan fasilitas tersebut untuk sarana pembelajaran masih kurang,” tutur Kepala Deputi ComLabs ITB Arief Bahtiar.

Melalui Pesantren IT, guru diajarkan bagaimana menyiapkan materi pembelajaran dengan menggunakan IT. Tidak hanya materi pembelajaran untuk satu pertemuan, satu semester, namun materi pembelajaran untuk satu tahun pelajaran.

“Minimal mereka bisa menggunakan Microsoft Office Power Point sebagai media materi pembelajarannya. Dan itu akan lebih efisien dalam pemberian materi ajar tersebut,” tegasnya.[den]

http://www.inilahjabar.com/read/detail/1768561/pesantren-it-arahkan-pengajar-jadi-pendidik

 [youtube http://www.youtube.com/watch?v=0ZzCTGieOH0&w=640&h=410]

 

Related articles, courtesy of Zemanta: