Thursday, January 31, 2008

Apakah kita perlu menguasai bahasa daerah?


Pertanyaan ini saya ajukan karena penasaran semakin tumpulnya peran budaya melaui penguasaan bahasa daerah di sekitar kita. Mungkin kita ingat bawa ada sekitar
746 bahasa daerah di Indonesia.

Bagi saya manfaat dari Bahasa Daerah itu sangat besar terbukti dari kejadian nyata yang bahkan jauh dari unsur budaya itu sendiri, diantaranya:
  1. Peran Suku Navajo pada Perang Dunia ke 2 di Pasifik:
    Mungkin bagi penggemar film, kita penah menonton atau tahu tentang film Windtalkers. Dalam film tersebut diceritakan bahwa Amerika Serikat terdesak oleh Jepang karena setiap sandi perangnya dipecahkan. Hal ini mengakibatkan kekalahan yang telak di beberapa pertempuran. Akhirnya diputuskan untuk merekrut tentara dari Suku Indian Navajo sebagai ahli sandi perang dengan menggunakan bahasa daerah mereka. Disinilah peran Sergeant Joe Enders yang dibintangi Nicolas Cage untuk melindungi mereka agar sandi tesebut tidak jatuh ke tangan Jepang. Terbukti bahwa peranan mereka sangat besar sehingga peta peperangan berbalik untuk kemenangan Amerika Serikat karena Jepang tidak bisa memecahkan sandi-sandi tersebut.
  2. Sheila Watt-Cloutier, Nominator Nobel Lingkungan dari Alaska : Dalam usahanya memperbaiki lingkungan Suku Inuit di Alaska, Sheila (yang bukan Suku Inuit) berusaha dengan tekun menjadi bagian suku tersebut agar usahanya berhasail. Caranya adalah dengan mempelajari Bahasa Daerah Suku Inuit sehingga ia bisa larut dengan budayanya. Cara ini ternyata sangat ampuh menjadi jembatan komunikasi keberhasilannya memperbaiki lingkungan di Alaska. Dalam perebutan Hadiah Nobel, dia hanya kalah dari Muhammad Yunus dangan Grameen Bank-nya di Bangladesh.
  3. Pembebasan Sandera Pesawat Udara di Don Muang: Mungkin kita tidak mengetahui bahwa pada saat peristiwa ini, antara prajurit di lapangan dengan pusat komando di Indonesia sebagian komunikasinya dilakukan dalam Bahasa Jawa. Hal ini dilakukan agar penyandera dan fihak lain (termasuk Pemerintah Thailand) tidak mengetahui rencana apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam perencanaan pembebasan sandera tersebut. Di luar pro dan kontra, hal ini membuktikan ternyata penggunaan bahasa daerah sangat efektif untuk komunikasi yang membutuhkan kerahasiaan atau "emotional binding" yang tinggi.

Mungkin masih banyak lagi artikel yang membahas pentingnya bahasa daerah dari sisi budaya, agama, politik, ekonomi dan lain-lain. Sebagai penutup saya kutip artikel yang memperkuat kekhawatiran akan kemungkina punahnya Bahasa Daerah di harian Kompas, Rabu 14 November 2007 sbb:


726 Bahasa Daerah Terancam Punah

Bisa Dipelihara Melalui Komunitas

Bandar Lampung, Kompas - Sebanyak 726 dari 746 bahasa daerah di Indonesia terancam punah karena generasi muda enggan memakai bahasa tersebut. Bahkan, kini hanya tersisa 13 bahasa daerah yang memiliki jumlah penutur di atas satu juta orang, itu pun sebagian besar generasi tua.

"Anak muda sekarang cenderung memakai bahasa asing dan bahasa nasional daripada bahasa daerah di dalam kehidupan sehari-harinya," kata Kepala Bidang Pembinaan Pusat Bahasa Mustakim di sela-sela Kongres Bahasa-bahasa Daerah Wilayah Barat di Bandar Lampung, Selasa (13/11).

Menurut Mustakim, sebanyak 13 bahasa daerah yang jumlah penuturnya lebih dari satu juta penutur adalah Bahasa Jawa, Bahasa Batak, Sunda, Bali, Bugis, Madura, Minang, Rejang Lebong, Lampung, Makassar, Banjar, Bima, dan Bahasa Sasak.

Bahkan, tidak sedikit bahasa daerah yang jumlah penuturnya kurang dari satu juta bahkan hanya tinggal puluhan penutur saja. Di antaranya bahasa di daerah Halmahera, Maluku Utara, yang jumlah penuturnya sangat terbatas.

Salah satu faktor penyebab terjadinya penurunan jumlah penutur adalah akibat pengaruh budaya global. Pengaruh budaya itu menyebabkan generasi muda lebih suka berbicara dengan menggunakan bahasa nasional Bahasa Indonesia, sesekali diselingi dengan menggunakan bahasa asing, daripada dengan bahasa daerah.

Cinta bahasa daerah

Kepala Kantor Bahasa Lampung Agus Sri Dhanardana mengatakan, untuk menumbuhkan dan melestarikan bahasa daerah, Pusat Bahasa bekerja sama dengan balai-balai bahasa di setiap provinsi di Indonesia menggiatkan kembali kecintaan generasi muda pada pemakaian bahasa daerah. Selain itu, pemakaian bahasa daerah bisa digarap melalui komunitas-komunitas sastra, lembaga-lembaga bahasa, ataupun jalur pendidikan formal di sekolah.

Akan tetapi, tindakan yang lebih konkret untuk mempertahankan bahasa daerah adalah dengan menerapkan langsung bahasa daerah itu dalam kehidupan sehari-hari.

Mustakim mencontohkan, bahasa daerah juga bisa dipakai dalam percakapan di rumah, untuk nama jalan, nama bangunan, nama kompleks perkantoran, nama kompleks perdagangan, merek dagang, ataupun nama lembaga pendidikan. Nama-nama dalam bahasa daerah itu bisa ditulis di bawah nama dalam bahasa Indonesia.

Lebih lanjut Mustakim mengatakan, pemerintah sebetulnya juga telah menunjukkan keberpihakannya dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pelestarian, Pembinaan, dan Pengembangan Bahasa Nasional dan Daerah. "Peraturan itu seharusnya bisa menjadi pedoman setiap kepala daerah melestarikan bahasa daerah masing-masing," kata Mustakim.

Meski demikian, menurut Mustakim, peraturan yang paling mengikat untuk bisa melestarikan bahasa daerah dan menghindarkan dari kepunahan adalah diterbitkannya undang-undang bahasa. (HLN)


Wednesday, January 30, 2008

Kunci sukses dari telepon pedesaan di Bangladesh

Di BANGLADESH, 97% dari rumah-rumah dan hampir semua pedesaan kekurangan telepon dan menjadi salah satu negara paling sedikit sarana telekomunikasinya di dunia. Ketiadaan sarana telekomunikasi ini mendukung keterbelakangan dan pemiskinan dari penduduk Bangladesh. Untuk mengatasi masalah ini, GrameenBank suatu lembaga institusi keuangan yang mikro, membentuk dua institusi:

1) Grameen Telecom, suatu organisasi nirlaba secara yang keseluruhan dimiliki GrameenBank untuk menyediakan servis telepon di daerah pedesaan sebagai satu aktivitas penghasil keuntungan untuk para anggota GrameenBank, dan

2) GrameenPhone Ltd. (Suatu kemitraan dengan institusi/perusahaan Amerika, Norwegia, dan Jepang), suatu perusahaan berorientasi keuntungan yang pada tahun 1996 memenangkan lisensi selular nasional GSM. GrameenPhone (GP) sejak itu telah menjadi operator yang dominan, serta menyediakan pelayanan telekomunikasi di wilayah pinggiran perkotaan dan sepanjang jalan kereta api.

Kunci sukses dari telepon pedesaan adalah hasil dari pengembangan kader dibidang wirausaha yang didukung oleh GrameenBank. Setelah Bank menyetujui pembiayaan suatu telepon, GT membeli suatu persetujuan beli telepon selular atas nama wirausaha dan menyediakan koneksi, perangkat keras dan pelatihan untuk mengoperasikannya. GT juga menjejaki trend di dalam telepon gunakan dan mengidentifikasi operator yang mempunyai pemasaran kesukaran atau mengumpulkan pembayaran-pembayaran untuk servis.

Jaringan telepon pedesaan dari GT juga menghasilkan manfaat-manfaat sekunder penting kepada wanita-wanita yang mereka melayani. Karena 95% dari operator adalah wanita, dan telepon-telepon itu di dalam rumah-rumah mereka, pelanggan wanita mempunyai akses pada telepon pedesaan inimerasakan nyaman menggunakannya. Ada juga beberapa bukti, karena telepon-telepon itu demikian penting bagi mereka, menjadi operator telepon pedesaan membantu mereka untuk meningkatkan status dari wanita-wanita tersebut di dalam masyarakat.

Friday, January 25, 2008

Andai Kau Pun Tahu

Andai Kau Pun Tahu

Meski Itu Serpih Haru

Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu

Nyatanya Hidup Membersit Biru


Terinspirasi dari Lagu: Kidung (Chrisye)



Thursday, January 24, 2008

Geus Lila Teu Naek Sapedah

Geus Lila Teu Naek Sapedah.....Kakara tadi peuting nyobaan ngaboseh deui ti Sekretariat B2W Indonesia di Wijaya-I tepi ka tempat kos kuring di Benhil. Ngareunah oge geuningan.....Tadi mah aya rarasaan kagok....ngan saanggeus sabaraha bosehan jadi biasa we....


Sapedah nu dipake ku kuring nyaeta kaluaran Polygon edisi B2W Indonesia nu dipasang (baca: asembling) ku Kang Wahjoe & Wahyu anu turun tangan langsung.....Hatur nuhun Kang.

Keur kuring mah leuwih ti cukup da geus dilengkepan per (baca: suspensi) dihareup. Oge aya gir anu cukup lengkep, can dicobaan da "gaptek tea.... Poe ieu, rencana sim kuring rek nyoba ka Plaza Senayan sakalian maen Bowling.....



Wednesday, January 23, 2008

Hai wanita, tiada kesan membecimu

Hai wanita, tiada kesan membecimu
Kusimpan benci dalam lemari besi tak berpintu
Kuncinya telah kulempar ke lautan biru
Aku tahu ibuku mengajarkan untuk selalu menghormatimu.....


Sebuah jawaban untuk Merie


Monday, January 21, 2008

Harapan itu seperti sayapmu

Harapan itu seperti sayapmu
Dia tidak akan memberi arti.....
bila engkau terlepas dari asamu

Biarkanlah itu menjadi bingkai hidupmu
dan foto jiwamu

Dan bulatkan agar bersama angin....
menjelajahi gunung-gunung,
ombak-ombak samudera
dan gemintang di angkasa harapanmu


“Never let go of hope. One day you will see that it all has finally come together. What you have always wished for has finally come to be. You will look back and laugh at what has passed and you will ask yourself… ‘How did I get through all of that?”

*) Terinspirasi dari Ade

Betah di rumah

Kami sekeluarga betah di rumah.....Bila tidak ada kegiatan yang sangat penting (baca: undangan, silaturahmi, atau ...."last but not least"....ke toko buku)........Ada perasaan enggan, kangen (saya seminggu sekali di Bandung), capek, menikmati, dan banyak alasan lagi untuk tetap tinggal di rumah......

Sepertinya harus ada perubahan mendasar ya....agar lebih tahu dunia luar terutama Bandung.......