Apakah Pelayanan Rawat Jalan Sebanding Dengan Mengantri Selama Tiga Setengah Jam?
Apakah Pelayanan Rawat Jalan Sebanding Dengan Mengantri Selama Tiga Setengah Jam?
Dulu kita sahabatTeman begitu hangatMengalahkan sinar mentariDulu kita sahabatBerteman bagai ulatBerharap jadi kupu-kupu* kini kita melangkah berjauh-jauhanKau jauhi diriku karna sesuatuMungkin ku terlalu bertindak kejauhanNamun itu karna ku sayangReff:Persahabatan bagai kepompongMengubah ulat menjadi kupu-kupuPersahabatan bagai kepompongHal yang tak mudah berubah jadi indahPersahabatan bagai kepompongMaklumi teman hadapi perbedaanPersahabatan bagai kepompongNa na na na na na na na naSemua yang berlaluBiarkanlah berlaluSeperti hangatnya mentariSiang berganti malamSembunyikan sinarnyaHingga ia bersinar lagi** dulu kita melangkah berjauh-jauhanKau jauhi diriku karna sesuatuMungkin ku terlalu bertindak kejauhanNamun itu karna ku sayangRepeat reff(Lagu Kepompong - Sindentosca)

Hari ini diisi dengan berbagai kegiatan yang lengkap dan berwarna. Mulai yang menggembirakan sampai yang menyedihkan terjadi silih berganti sbb:
Rapat Manajemen dan Rekrutmen
Rapat di Comlabs-ITB kali ini membicarakan beberapa topik penting diantaranya:
Beberapa alasan menggunakan ACL :
Ehm…kelihatannya sepele ya..tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Coba lihat dan teliti film Amerika yang memperlihatkan seseorang harus ujian mengemudi berkali-kali agar lulus mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) seperti di film “Speed-2″ dengan Sandra Bullock sebagai pemeran utamanya. Tilik juga Nelson Piquet, ex-pembalap F-1 yg terkenal dari Brazil, yang harus belajar mengemudi lagi karena sering melanggar lalu lintas.
Kelihatannya masih banyak pengemudi di Indonesia harus ujian SIM ulang agar mereka tidak menganggap kendaraannya dan mengemudi di jalanan adalah "Ekpresi Kebrutalan" dirinya :-(
http://www.youtube.com/watch?v=fPdgLWHC3xg
Acara langsung "digebrak" dengan Donor Darah dan saya kebagian urutan nomor 5 (The Lucky Number)....... Saat itu datang juga sahabat Heru Pramono yang saya "paksa" agar darahnya mau "disedot" PMI. Kemudian dengan "enggan" dia mau masuk ke bilik Donor Darah...... Taraaa! Kurang lebih setengah jam kemudian dia keluar dengan wajah berseri tanpa "penyesalan" :-)
Sungguh terasa bahwa "Setetes Darah Kita, Menyelamatkan Nyawa Orang Lain", panitia Reuni kali tidak ingin kehilangan momentum. Meeka sadar bahwa reuni bukan hanya masalah "having fun" (baca: hura2) namun lebih kepada semangat sesuai spanduk reuni yang berbunyi "Berjumpa......Berkumpul......Bermakna".
Acara kedua adalah Foto Bersama.....Inilah waktunya bernarsis-ria.....Teu emut mun ayeuna geus kapala opat manjing kalima.....Ikut berteriak dan bergaya bebas bak John Travolta atau Mick Jagger......Berkali-kali difoto sampai lupa apakah saya pernah di kelas 3B1 atau 3B2......Pokonamah kafoto we lah :D
Para alumni berfoto di depan kampus Belitung 8 pada saat cuaca panas......Ya itu tadi, kalau soal berpose mah tidak kalah sama anak cucunya....Meriah dan kekanak-kanakan.....Wajar saja sudah lebih dari seperempat abad tidak bertemu :D
Kemudian alumni "digiring" ke aula di tingkat 3 sebelah belakang kiri SMA 5 Bandung.....Pangling memang atas perubahan yang ada...Semakin padat dan lengkap, namun hampir semua "renghap ranjug" sampai aula di tingkat tiga bakating ku cape :)
Sampai di Aula kelupaan belum sempat Sholat Duhur.......Dan pemirsa.....Turun lagi ke lantai dasar untuk sholat di Musholla yang cukup asri. Saat itu "tampuk pimpinan" (imam) sholat diserahkan kepada saya, mungkin saja karena saat itu "Saltum" (Salah Kostum) pakai batik ke acara alumni sehingga terlihat "berwibawa".
Setelah makan siang dari katering milik sesama alumni, acara dilanjutkan dengan "Tepang Sono dengan jajaran Civitas Sekolah dan eks Guru SMA 5 Bandung". Saat itu hadir guru-guru seperti Ibu Sukapti (Guru Matematika yang kebetulan juga tetangga rumah), Ibu Ani (Biologi) Ibu Winarsih (Sejarah), Ibu Mami Tumbelaka (Bhasa Inggris), Pak Arief (Fisika), Pak Rusli+Bambang (Olahraga), Pak Margana (Matematika) serta Kepala Sekolah saat ini Bapak Jumdiat Marzuki beserta dua Wakasek.
Acara dibuka dengan semua alumni menyanyikan himne Guru sebagai berikut:

Kemarin saya berenang dengan "Yunior" di Kolam Renang Sabuga dalam rangka mempertahankan "Body Mass Index" (baca: patuangan bayuhyuh). Tidak rutin memang, namun lumayan lah untuk sekedar menyeimbangkan olah raga dan jiwa serta "ngalelempeng hulu ramot" :-).
Untuk diketahui, Renang telah dikenal sejah zaman pra-sejarah. Dari gambar-gambar yang berasal dari zaman batu diketahui adanya gua-gua bagi para perenang di dekat Wadi Sora sebelah barat daya Mesir. Di Jepang, renang adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh para samurai. Sejarah mencatat, pertandingan renang pertama diselenggarakan oleh Kaisar Suigui pada 36 sebelum Masehi.
Kemampuan renang sangat penting bagi kita, karena bumi yang kita diami sekitar 70% permukaannya adalah air. Bahkan hampir semua pasukan khusus di dunia mewajibkan anggotanya punya kemampuan berenang yang mumpuni. Ya, mereka menganggap kemampuan Renang adalah bagian dari Kemampuan Untuk Bertahan Hidup.
Namun, terdapat berbagai risiko saat manusia berada di air, baik sengaja maupun tidak sengaja. Kecelakaan di air dapat menyebabkan cedera hingga kematian akibat tenggelam. Oleh karena itu, sebelum memasuki air, perenang harus mencari tahu kedalaman kolam renang, sungai, atau laut yang ingin direnangi. Berenang di sungai atau di laut bisa sangat berbahaya bila terdapat arus deras atau ombak besar secara tiba-tiba. Orang yang sedang dalam pengaruh alkohol dan obat-obatan dilarang untuk berenang.
<iframe width="600" height="450" src="http://www.youtube.com/embed/rd1Vb5bsrK4" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>
Anda bisa mengemudi khan? Ini bukan pertanyaan yang aneh..... :-)
Serius....., kalaupun kita minimal bisa mengemudikan sepeda motor, seringkali kita merasa itu adalah sesuatu yang "given" dan punya anggapan serba gampang dan nggak ada aturan yang pasti.
Tahukah anda, cara mengemudi motor yg baik dan benar salah satunya adalah : Kedua tangan jangan lurus 180 derajat kedepan,tapi harus ada sedikit sudut pada siku tangan?
Tahukah anda, bahwa Mengemudikan Kendaraan Itu Bukan Pekerjaan Sampingan (kerennya: Driving Is Not A Part-Time Job) serta memerlukan konsentrasi penuh?
Tahukah anda, menjalankan mobil dengan lembut, bukan saja menghemat bensin tapi juga memperpanjang umur mesin, transmisi dan rem?

Ehm...kelihatannya sepele ya..tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Coba lihat dan teliti film Amerika yang memperlihatkan seseorang harus ujian mengemudi berkali-kali agar lulus mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) seperti di film "Speed-2" dengan Sandra Bullock sebagai pemeran utamanya. Tilik juga Nelson Piquet, ex-pembalap F-1 yg terkenal dari Brazil, yang harus belajar mengemudi lagi karena sering melanggar lalu lintas.
Sebagai ilustrasi, saya kutip artikel dari www.mobilku.com perihal "Menjadikan mobil semakin aman" sebagai berikut:
Kemajuan teknologi menjadikan mobil semakin aman dan anda bisa membuatnya lebih aman lagi. Kuncinya disiplin dan akal sehat. Kecelakaan selalu terjadi saat kita lengah, tanpa kita tahu kapan dan dimana. Karena itu, biasakanlah menggunakan seatbelt dan mintalah pengendara lainnya untuk memasangnya pula. Kalau perlu paksa! Karena perangkat ini terbukti efektif memberikan tingkat perlindungan optimal pada kecelakaan.
<iframe width="600" height="450" src="http://www.youtube.com/embed/q2F-OI1ecUY" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>
by Fernando Reimers | on http://blogs.hbr.org/innovations-in-education/2011/03/educational-innovation-technol.html

Editor's note: This post is part of a three-week series examining educational innovation and technology, published in partnership with the Advanced Leadership Initiative at Harvard University. Over time, however, I have become aware that traditional approaches can't improve education at a scale and depth sufficient to ready the next generation of students for the challenges they will face. I have also become more skeptical of the assumed linear relationship between conventional research and educational change. I now believe the needed educational revitalization requires design and invention, as much as linear extrapolation from the study of the status quo — that is, of the past. It also requires systemic interventions — changes in multiple conditions and at multiple levels, inside the school and out. And it requires a departure from the conventional study into how much we can expect a given intervention or additional resource to change one educational outcome measure — typically a skill as measured on a test or access to an education level, or transition to the next. It is this interest in change that has led me to study the work of education entrepreneurs — of innovators who are creating new education designs, in ways that exceed the resources they command. I am especially interested in the entrepreneurs whose goal is to produce significant educational innovation — rather than simply providing access and delivering services to new groups, or rather than improving the efficiency of the educational enterprise as we know them — to teach our old schools a few new tricks, so to speak. I am also particularly interested in entrepreneurs who can achieve sufficient scale and develop the strategy to significantly change the ecosystem, to shift the conversation about education, to eventually transform the sector in the way in which Wilhelm Humboldt transformed the sector of higher education with the creation of the University of Berlin, or in the way in which Joseph Lancaster propelled the universalization of basic education with the development of a method to teach a basic curriculum at low cost. The conversations in these blogs on Educational Innovation and Technology are an exciting opportunity to explore a promising mix — the synergies that can result from combining innovation, the utilization of technology in education and the role of education entrepreneurs in creating new designs that can transform the ecosystem. It is in the interplay of these three factors that I see the greatest potential. Not all education entrepreneurs using technology generate innovation, and most of their designs have failed to transform the sector and not all innovators using technology have produced designs that can be scaled or with the ambition and potential to change the conversation or the sector. As a result, educational enterprise is a fragmented territory, of modest scale, yet to transform the education ecosystem. In order for these three elements — innovation, technology and entrepreneurship — to produce the synergies necessary to substantially transform education, we will need to build a collaborative architecture that allows for the fruitful integration of careful study, design and invention, and action at scale. Such collaboration of industry, academy and the public schools is exceptional, not the conventional way of business for universities, governments or businesses. Universities are uniquely positioned to lead in forging these partnerships. The trust we receive from society in the form of financial resources, financial and legal advantages and institutional autonomy enable us to anticipate new organizational forms to support educational renewal, rather than reproduce the established forms of the past. While we haven't done this consistently in the history of higher education in the US or abroad, there are good historical precedents of universities taking seriously the task of substantially improving the work of elementary and secondary schools, of serving those who are not direct members of the university community. This is the time for universities to lead the task of fundamentally reinventing public education. But to do it well, we need to seriously commit to design and innovation, and to work with others — with entrepreneurs, industry and governments — so that their ambitions and impatience for results, and the accountability they have with the constituencies they serve, can help align our efforts with the creation of public value in the form of education institutions that prepare the next generation to lead and manage the challenges we have passed on to them. Fernando Reimers is the Ford Foundation Professor of International Education and the Director of the International Education Policy Program at the Harvard Graduate School of Education. He is a member of the Council on Foreign Relations, a Fellow of the International Academy of Education, and Chair of the World Economic Forum's Global Agenda Council on Education. Fernando Reimers is the Ford Foundation Professor of International Education and the Director of the International Education Policy Program at the Harvard Graduate School of Education. He is a member of the Council on Foreign Relations, a Fellow of the International Academy of Education, and Chair of the World Economic Forum's Global Agenda Council on Education.
I have spent the last 25 years studying and working with governments and private groups to improve the education available to marginalized youth, in the United States and around the world. Most of that work was based in the belief that change at scale could result from the decisions made by governments, and that research could enlighten those choices. When I joined the Harvard faculty 13 years ago I set out to educate a next generation of leaders who would go on to advise policy makers or to become policy makers themselves, and designed a masters program largely responsive to that vision. During those years I continued to write for those audiences.FERNANDO REIMERS