Friday, January 18, 2008

Ngawahan Jeung Aweuhan

Kuring keur ngawahan dina jalan anu mangmang
Sagala rupa kapikir, bari sieun teu bisa ngabecir
Siganamah kudu babalik pikir bari dzikir
Misahkeun aweuhan anu rosa dina hate sangkan make

Thursday, January 17, 2008

Apa Yang Bisa Dilakukan Dengan Angklung????

(Klik foto untuk memperbesar)

Mungkin kebetulan atau tidak, Riris menyenangi angklung. Ternyata banyak hal yang bisa didapat dari alat musik asal Bandung ini. Bagi putri kami ini, saya lihat sisi positif diantaranya adanya keseimbangan bagi otak kanannya (seni, kreatifitas dll.) sebagai kompensasi setelah memperoleh gemblengan untuk otak kirinya (logika, ilmu dll.) di sekolah, Bimbingan Belajar dan di rumah.

Saya tidak tahu apakah dia akan terus mengembangkan "karirnya" dan kecintaaannya pada angklung. Namun kalau membaca artikel di bawah ini kelihatannya kami sekuarga akan mendorong dia untuk juga berkiprah pada kesenian ini...........


Dengan Angklung Menaklukkan Eropa

Maulana M Syuhada bersama 35 temannya menjelajahi berbagai negara di belahan Eropa. Misinya hanya satu: Ekspand the Sound of Angklung (ESA). Memperkenalkan alat musik tradisional Sunda yang bisa membawakan berbagai lagu ini merupakan pekerjaan menantang bagi Maulana.

September 2007, buku tentang pengalaman mereka diluncurkan di Bandung: 40 days in Europe. ”Seusai melakukan penjelajahan budaya ke beberapa negara di Eropa ini, saya menilai, pengalaman ini tidak boleh terhapus oleh waktu. Pengalaman ini sangat berharga,” jelas pria kelahiran Bandung, 14 Juni 1977, ini.

Mereka telah berkelana di Eropa pada 22 Juli 2004-30 Agustus 2004. Misi mereka awalnya hanya untuk mengikuti Aberdeen International Youth Festival, salah satu even budaya terbesar di Skotlandia. Peserta festival ini bukan hanya kelompok seniman dari Skotlandia, tapi hampir seluruh kelompok seniman dunia.

Tapi, ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, alumnus SMA Negeri 3 Bandung angkatan 1996 ini bertekad upaya melanglang buana mengenalkan angklung tak cukup hanya berlabuh di Skotlandia. Sebagai pimpinan rombongan, Maulana bersusah-payah mencari tahu berbagai festival dan even budaya yang digelar di berbagai negara Eropa dalam kurun waktu yang tak jauh berbeda.

”Festival dan konser itu dicari selama satu tahun. Lalu di set up. Selama mencari berbagai even dan festival itu, saya harus bolak-balik Paris, Berlin, Brussel, dan mencari berbagai festival melalui internet, telepon, maupun kopi darat,” tutur jebolan program Master (S2) Manajemen Produksi Technische Universitaet Hamburg, Jerman. Alhasil, dua festival lain bisa diikuti oleh tim ESA pimpinan Maulana ini. Yaitu, International Festival of Highland Folklore di Zakopane, Polandia, dan International Folklore Festival di Kostelec, Republik Czech.

Berbagai pertunjukan ‘gratisan’ juga digelar ESA di berbagai negara dan kota, mulai dari Bremen, Berlin, Muenchen, Paris, Frankfurt, Hamburg, hingga Brussels. Dalam setiap pertunjukan, Maulana dan tim ESA sering menampilkan lagu-lagu daerah dan keroncong. ”Penampilan angklung dengan membawakan lagu-lagu klasik, seperti karya Bach dan lagu-lagu opera seperti Opera Carmen, cukup mendapatkan apresiasi hangat dari para penonton,” jelas kandidat PhD Ilmu Manajemen Lancaster University Management School, Inggris, itu.

Hampir di setiap pertunjukan, penonton bahkan juga juri memberikan standing applaus. Tidak hanya itu, berbagai penghargaan pun diraih ESA dan tentu saja Maulana. ESA meraih juara pertama di festival mendapat di Kostelec, Republik Czech.

Di festival Zakopane, Polandia, selain meraih juara pertama, mereka juga mendapat penghargaan tertinggi, yaitu Ciupaga. Padahal, di festival itu Maulana dan ESA hanya berstatus sebagai bintang tamu. Sebenarnya, Maulana dan kelompok ESA tidak berhak ikut dalam kompetisi folklor karena tidak mewakili jenis kebudayaan folklor dataran tinggi. Tetapi, lantaran performa ESA dinilai sangat berkualitas, tim juri akhirnya tetap memutuskan penghargaan tertinggi itu berhak diraih ESA dan Maulana.

Aktualisasi Diri
Sebelumnya, Maulana adalah peranakan Sunda yang tak begitu mengenal angklung. Perkenalannya dengan angklung terjadi saat mengikuti orientasi siswa baru di SMAN 3 Bandung. Saat itu, kata dia, Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 (KPA 3) membawakan soundtrack film McGyver yang saat itu tengah ngetren.

”Ternyata, angklung itu alat musik tradisional yang bisa digunakan untuk membawakan lagu-lagu Top 40, bahkan soundtrack Mcgyver,” kenang mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia di Jerman (IASI) ini. Hingga lulus dari SMAN 3 Bandung dan belajar di Teknik Industri ITB, Maulana belum juga memainkan angklung. Alat musik bambu itu baru ia pelajari justru saat dirinya belajar di Jerman, tepatnya di Hamburg University of Technology, pada 2001.

Maulana memainkan angklung dengan segala keterbatasannya, mulai dari sarana hingga personel. Dia dan rekan-rekan mahasiswa yang sama-sama berasal dari Indonesia, hanya memainkan angklung pada saat digelar International Student Evening.

Sambutan dari para penonton saat dia dan kelompok mahasiswa Indonesia bermain angklung sangat luar biasa. Bahkan, para penonton terlihat begitu antusias. Atas kepuasan penonton itulah, Maulana mengaku bahwa angklung menjadi semacam bentuk aktualisasi dirinya. Lewat angklung pula, ia merasakan pencitraan positif tentang Indonesia. ”Faktor ini yang menyebabkan saya tidak berhenti bermain angklung,” jelas alumnus Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Garut, Jawa Barat, ini.

Dengan segala ketekunannya, Maulana menghimpun rekan-rekannya untuk serius mempelajari angklung. Maulana dan rekan-rekannya pun mendirikan Angklung Orchester Hamburg pada 2002. Kini, kata dia, terdapat puluhan anggota Angklung Orchester Hamburg yang berasal dari 10 negara, yaitu Meksiko, Venezuela, Vietnam, Thailand, Ethopia, Elsavador, India, Austria, Rusia, dan Jerman.

Mengambil program doktoral di Inggris, Maulana tetap bermain angklung. Di Lancaster University Management School, Inggris, kata dia, pesertanya, 100 persen orang Inggris. Maulana yakin bahwa mengenalkan angklung di luar negeri merupakan upaya yang sangat efektif untuk diplomasi, khususnya dalam bentuk pencitraan. ”Lewat seni, Indonesia memiliki nilai yang sangat tinggi,” tegasnya.

Bersama 35 orang, Maulana telah menundukkan Eropa. Senjata mereka angklung. ”Ini merupakan pengalaman yang luar biasa,” kata mantan presiden Angklung Orchester Hamburg, Jerman, itu.

Sumber : www.republika.co.id

Tuesday, January 15, 2008

Guruku Baik Sekali

Judul di atas saya cuplik dari film "Guruku Cantik Sekali" yang "mungkin" (baca: lupa...) pernah saya tonton. Namun saya akan coba menceritakan pengalaman pribadi sebagai murid yang saya rubah konteksnya..........

Saat di TK Silih Asih ~40 tahun yang lalu, saya masih ingat gurunya adalah Ibu Koyon. Tidak tahu dipanggil demikian...namun yang saya tahu beliau sangat cinta profesinya dan juga anak didiknya. Beliau juga dikenal ramah dan supel diantara warga Muararajeun dan sering terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Karena lokasi TK ini tidak jauh dari rumah, beliau kenal juga dengan orang tua saya........Yang mengesankan, pernah suatu kali saya diantar pulang ke rumah karena menangis pada hari pertama sekolah.....Suatu tindakan yang "normal" bagi seorang guru TK, namun sangat berkesan bagi saya. Kenangan yang lain adalah ketika saya beranjak remaja, betapa sedihnya beliau (dan juga saya), saat TK tersebut harus dibubarkan karena gedung (tepatnya ruangan) TK tersebut bukan milik sendiri (atau yayasan), namun menumpang pada salah satu rumah di komplek perumahan dinas......Cerita sederhana memang.....namun tiadanya TK Silih Asih serta figur Ibu Koyon tersebut... (baca: Apalah Arti Sebuah nama???) ......Hilang pula rasa Silih Asih di "Tempat Lahir Beta"????....Mudah-mudahan tidak.....

Kenangan selanjutnya adalah ketika menyusun Tugas Akhir ketika di ITENAS. Saat itu dosen pembimbing sedang kursus bahasa di Jakarta sebagai persiapan penugasannya dari tempat beliau bekerja, saya terpaksa bolak balik Bandung-Jakarta untuk bimbingan. Suatu ketika, saya bimbingan dengan Bapak Mulawarman di rumah mertua beliau di daerah Tebet......Mungkin karena sedang Shaum (kalau tidak salah bulan Ramadhan) dan masuk angin (serta bukan dari kalangan "Road Warrior") ....saya mulai mual-mual dan tiba-tiba muntah.....Betapa malunya saya, namun dengan sabar beliau dan istri memijit dan memberi saya minyak angin sampai kondisi saya pulih kembali (its real story).....Suatu pengalaman yang tidak akan saya lupakan.....bahwa betapa ketulusan itu akan selalu diingat sepanjang hayat.....

Masih banyak kenangan indah dari guru saat SD, SMP, SMA maupun tingkat pendidikan lanjut yang saya ikuti....namun sebagai pembuka saya bagi cerita ini bagi pemirsa.......

Monday, January 14, 2008

Dokter....Engkau Memang Pinter

Sabtu kemarin kedua putra-putri kami terserang demam dan suhu tubuhnya naik turun berkisar antara 37-38,7C. Di tubuh mereka timbul bercak merah terutama di wajah Firman yang kulitnya relatif putih....Sedangkan Riris juga mengalami pegal-pegal di persendiannya.....

Alternatif pertama yang kami lakukan adalah memberi mereka madu Habatus Sauda untuk pertahanan tubuh. Setelah malamnya mereka masih panas, maka kami putuskan untuk segera ke dokter yang biasa dikunjungi keluarga kami.....namun karena hari itu adalah Ahad....timbul keraguan karena biasanya dokter dan klinik libur........

Setelah mencoba menelepon beberapa kali, didapatkan informasi bahwa dokter anak yang biasa dikunjungi Firman buka ba'da Maghrib.....Yang mengejutkan Dr.Nurrachim menjawab panggilan kami melalui HP dan menginformasikannya secara langsung... Sedangkan untuk Riris kami terpaksa ke UGD salah satu rumah sakit swasta di Bandung.

Singkat kata kedua dokter yang dikunjungi menginformasikan bahwa putra putri kami terserang penyakit yang sama dan memerlukan istirahat dokter (baca: sebetulnya merka bersikeras untuk masuk sekolah setelah libur panjang ini, namun Commander In Chief memutuskan mereka untuk istirahat minimal hari ini)....Alhamdullillah keduanya sudah stabil suhu tubuhnya dan dalam masa pemulihan....

Cerita belum selesai......Dari pengalaman kemarin.....ternyata "pengobatan" yang ampuh dari kedua dokter tersebut adalah penerimaaan yang tulus dari mereka....Kita bisa mengerti, di hari libur dimana sebagian besar orang sedang istirahat atau berkumpul dengan keluarga, seorang dokter memang dituntut untuk bisa memainkan "Peran Orcar-nya" untuk selalu ramah namun tegas dalam menghadapi pasiennya. Tidak sedikit memang dokter yang menganggap pasien adalah bagian dari rutinitas atau "Assembling Line" dari tugas mereka, namun dengan persaingan yang ketat dan "Rule of Games" yang sangat berbeda pada saat ini, banyak dokter yang memasukkan Hubungan Manusia (dengan H dan M dalam
huruf besar) dalam profesinya.

Dokter....Engkau Memang Pinter.......Ayo para dokter anda berharga bagi bangsa ini….

Baca juga : http://sardjana.multiply.com/reviews/item/16

Wednesday, January 2, 2008

Hadiah akhir tahun dari RumahkuSurgaku.com

Alhamdullilah....sesuai pengumuman dari RumahkuSurgaku.com "PORTALNYA KELUARGA BAHAGIA", saya memenangkan Hosting 5 GB sebagai Pemberi Saran & Kritik Terbaik..... Rencananya akan digunakan sebagai rumah maya untuk wahana dan wacana pendidikan, kewirausahaan sosial dan keluarga.

Semoga portal RumahkuSurgaku.com semakin besar dan bermanfaat bagi keluarga Muslim yang membutuhkannya....Amin....

Berikut adalah pengumumannya yang dimuat tanggal 31 Desember 2007:

Pemenang Hosting 5GB
Monday, 31 December 2007
Ditulis Oleh Tim RumahkuSurgaku.com

Selamat kepada : Jonriah Ukur Ginting, Teguh Atmajaya, dan Djadja Sardjana sebagai pemenang Pemberi Saran & Kritik Terbaik serta Yusro Widiastomo sebagai Pemberi Testimonial Terbaik Versi RumahkuSurgaku.com. Semua pemenang berhak mendapatkan hosting gratis sebesar 5GB selama setahun.

Angka memang bukan kode buntut


Angka memang bukan kode buntut
Namun penuh dengan pikiran runut
Asal kita tahu itu tidak selalu urut
Mungkin juga hasil pengetahuan yang mengikut

Angka memang bukan kode buntut
Sering kali menimbulkan wajah kerut
Terutama bila dikaitkan dengan sikap yang tak patut
Dari hamba-Mu yang tidak mengenal rasa takut


Gambar dipinjam dari: http://www.funbrain.com/guess/magic.gif

“Kasih sayang ayah sepanjang galah, kasih sayang ibu sepanjang kalbu”


CMIIW (Correct Me If I'm Wrong).

Setiap zaman ada masanya hubungan orang tua dan anak direpresentasikan. Semua ada “base line” dan “key word” yang tetap sama yang direpresentasikan dengan peribahasa:
“Kasih sayang ayah sepanjang galah, kasih sayang ibu sepanjang kalbu”.

Benar atau salah, semuanya bermula dari hati (baca: kalbu). Ayah yang sabar (baca: bagi saya ini susyaaah….) pada buah hatinya serta ibu yang selalu merindu pada putra-putrinya dan tawaddu, merupakan salah satu “Key Performance Indicator / KPI” dalam hubungan yang indah namun tidak sesederhana yang kita bayangkan tersebut……..